Saya orang yang sangat beruntung.
Butuh tahunan hidup dan saya baru menyadarinya. Butuh membaca fic ini dan saya baru menyadarinya. Butuh membaca postingan ini dan saya baru menyadarinya. Tapi saya beruntung, karena akhirnya saya menyadarinya. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, iya kan?
Saya orang yang sangat beruntung,
punya kemampuan otak yang berada di atas rata-rata. Saya punya IQ yang termasuk cerdas. Saya dulu sekolah di SMP terfavorit di Surakarta. Saya dulu berhasil masuk akselerasi di SMA 3 Warung Miri—masih di Solo, bagi yang nggak tau Wamir itu daerah mana. Saya masuk ITB, dimana ada beberapa teman saya plus kakak saya yang nggak berhasil masuk. Saya masuk STEI yang katanya passing gradenya tertinggi (katanya lho! saya mah gak tau :P). Saya masuk jurusan Elektro yang sangat saya syukuri karena tak perlu mempelajari programming yang euh... no komen. Saya mampu mengikuti kuliah—meski sedikit keteteran gara-gara kebanyakan hedon (=.=''). Saya suka hitungan (err, itu termasuk keberuntungan kan? :D).
Saya orang yang sangat beruntung,
masih punya keluarga yang super bahagia. Keluarga inti yang sangat saya cintai. Plus tambahan satu orang kakek saya. Dan beberapa Om-Tante beserta banyak sepupu. Keluarga besar yang super bahagia (have I told you?). Saya sayang semua anggota keluarga besar saya :)
Keluarga inti saya masih lengkap. Err, oke, Mama pernah keguguran yang menyebabkan 3 adik saya nggak jadi lahir. Tapi tetep, Papa, Mama, Mbak dan Adik, semua itu lebih dari cukup bagi saya untuk sebuah keluarga. Tapi saya juga nggak nolak kalo mau dikasih adik satu lagi (yang cowok lagi dong, Mah! XD).
Keluarga saya nggak pernah kekurangan finansial. Mmmm, sebenernya dulu pernah. Ah, masa lalu! Forget it.
Pokoknya sekarang keluarga saya memiliki tabungan yang cukup untuk menyekolahkan saya dan kakak saya di tingkat kuliah serta adik saya yang masih SD. Masih cukup untuk membelikan saya makanan-makanan yang tiba-tiba saya pengen (dimsum! j-co! dunkin donuts! pizza! bebek peking! *ditabok*). Cukup untuk memberi saya fasilitas-fasilitas yang lumayan mewah di kamar kos saya—saya akui itu. Lebih dari cukup untuk hidup secara layak. Sangat lebih.
Saya orang yang sangat beruntung,
orangtua saya masih ada. Beberapa teman saya, udah nggak memiliki salah satu atau keduanya. Dan saya masih. Dua-duanya. Lengkap. Sudahkah saya katakan saya amat menyayangi mereka? Belum? Oke, saya katakan, “Saya sayang banget sama Papa Mama. Dimanapun, kapanpun. Selamanya.”
Kedua orangtua saya juga sayang sama saya. Nggak perlu penjelasan. Mereka sayang saya. Titik. Nggak percaya? Silakan tanya mereka.
Saya orang yang sangat beruntung,
punya kakak dan adik. Ngerasain jadi seorang adik sekaligus kakak. Bisa manja-manja sama Mbak. Bisa nggangguin ngemanjain Adik.
Kakak saya sering saya dzolimi. Sering banget saya bikin dia kecewa, sakit hati, marah. Tapi dia selalu baik sama saya. Selalu ngasih saran-saran bermanfaat tentang makhluk berjenis kelamin cowok, selalu bisa bikin saya ketawa dengan kedudulannya, selalu ngasih baju-bajunya yang udah nggak muat (siapa suruh beli baju ketat-ketat?), selalu mau saya godain. Oh, betapa menyenangkannya jadi adik. Adakah kakak yang lebih sempurna dari dia? You can say anyone. But for me, my big sist is the best. (Ayo katakan kau juga mencintaiku, sayang. Haha.)
Adik saya CAKEPP banget. Bagi saya, dia adalah anugerah terindah. Bukan bermaksud bilang kalo yang lain nggak indah, bukan, hanya aja, Adik saya bener-bener the most important thing in my life. Saya rela nempuh perjalanan 9 jam, kedinginan, dan bikin diare, demi ngeliat mukanya dan meluk dia lagi—hal yang paling saya kangenin—setelah sekian lama. Saya paling suka saat-saat meluk dia yang selalu berakhir dengan pukulan dan dorongan biar saya ngelepasin atau malah dia balas meluk yang OVER sehingga saya sesak nafas :)) Saya tau dia jenius, tapi dia nggak mau nunjukin kejeniusannya—yang selalu bikin saya marah. Saya tau dia maniak game dan saya sangat terharu waktu dia minjemin PS 2 buat saya (iya, sayang, habis kamu ujian, aku balikin ;)). Saya tau dia udah punya cewek (oh, man, anak SD zaman sekarang!) tapi itu nggak mengurangi rasa cinta ini padanya. Hati saya udah buat dia semenjak saya liat sosoknya yang masih bayi merah. *ergh, mulai berlebihan brother compleks*
Saya orang yang sangat beruntung,
punya banyak teman-teman yang asyik, lucu, menyenangkan. Keluarga besar SD KLECO II. Keluarga besar 3F SMP 1 Solo. Keluarga besar AKSEL SMA 3 Solo. PKS SMAGA. KALKULUS ENAM, STEI’07. ELEKTRO, HME. Boulevard. PSTK. Wika. Anak-anak infantrum.
They are nice. They are fun. They are INSANE! XDD
Saya sayang kalian semua, kawans. Di saat saya kesusahan, di saat saya sedih, di saat saya butuh dukungan. You are here by my side :) Tengkiu, tengkiu.
Sampai kapanpun kalian di hati saya—yang buat adik saya itu, HAHA—sampai kapanpun. Eh, beneran, I don’t lie, guys :)
Saya orang yang sangat beruntung,
diberi begitu banyak nikmat oleh-Nya. Yang bahkan saking banyaknya hingga nggak semua saya ketahui, atau saya ingat.
Saya orang yang sangat beruntung—yang hanya bisa bilang, “Alhamdulillah.” Dan berjanji mengurangi keluhan.
Ya, saya ini orang yang sangat beruntung. Terima kasih, ya Allah :)
07 April 2009
Saya Orang yang Sangat Beruntung
06 March 2009
Not 'be the best' But 'do your best' :)
Dua tahun yang lalu, saya ini sering kena stres. Latihan UAN, latihan UAS, tryout tryout, ujian semesteran. Semua itu mah saya jalani dengan senang hati. Sebenarnya, saya nggak terlalu peduli sama nilai. Tapi semua itu berbeda kalau menyangkut BIOLOGI
Oyeah, saya benci mata pelajaran satu ini. Entah kenapa setiap kali ada ulangan maupun ujian Biologi, saya TERTEKAN. Tiap kali baca si buku Biologi--yang sebenernya covernya itu sangat menarik--saya nangis.
Saya ingat, di salah satu ujian Biologi, saya udah keluar kelas di saat waktu masih ada sejam. AMAZING!
Apakah saya bisa?
Nggak. Saya udah nggak tau mau nulis dan ngebacot macam apa lagi di lembar jawaban, jadinya saya keluar. Anak kedua yang keluar. Yang pertama itu Johan kalo nggak salah.
Bukan salah Biologi sih. Tapi mungkin emang saya ini nggak begitu suka dia. Dan sedikit tekanan dari sang Mama untuk mendapatkan nilai bagus. Dibandingin nilai Biologi--dan PPKN dan Geografi--nilai saya yang lain lumayan bagus. Tapi... argh! BIOLOGI l****t!
Itulah.
Saya stres.
Dan ada seseorang yang bilang kata-kata bijak itu,
"Not be the best, but do your best."
Semuanya tiba-tiba terlihat begitu indah. Burung-burung berkicau.
Eh, nggak ding. Burung-burung emang berkicau, tapi semuanya nggak tiba-tiba jadi indah. Biologi masih merupakan nightmare.
Tapi seenggaknya, saya nggak terlalu tertekan. Dan berhasil lulus itu mata pelajaran.
Tengkiu, Rho.
Entah kenapa kepikiran kata-katamu itu deh dari tadi =_=
24 September 2008
Remembrance
I remember, the way you glanced at me, yes I remember
I remember, when we caught a shooting star, yes I remember
I remember, all the things that we shared, and the promise we made, just you and I
I remember, all the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawn
Do you remember, when we were dancing in the rain in that December
And I remember, when my father thougt you were a burglar
I remember, all the things that we shared, and the promise we made just you and I
I remember, all the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawn
Yes I remember, all the things that we shared, and the promise we made just you and I
I remember, all the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawn
I remember, the way you read your books, yes I remember
the way you tied your shoes, yes I remember
the cake you loved the most, yes I remember
the way you drank your coffee, yes I remember
the way you glanced at me, yes I remember
when we caught a shooting star, yes I remember
when we were dancing in the rain in that December
And the way you smile at me yes I remember
-Mocca, I Remember
Tiba-tiba inget lagu ini. 'I remember', lagunya Mocca yang jadi OST Catatan Akhir Sekolah. Film yang keren banget. Ngerekam gimana kenangan masa-masa SMA mereka.
Duh. Maap yah. Lagi dalam mood kangen masa-masa SMA. Dua tahun penuh kehebohan. Wamir tercinta yang dulu kumuh banget, tapi sekarang dah di renovasi jadi keren sangat. Terutama, kangen orang-orang yang udah bikin hari-hari jadi penuh warna. Aghost, Aji, Galan, Daniel, Rho, Rhido, Ivan, Joe, Herman, Kharis, Airfun, Ryan, Abe, Angga, Awanx, Surya. Anis, Tya, Bro, Winda, Poe, Pipin, Titis. V3a, Katreen, Nia, Ayoex, Ayu satunya, Mbak Reeza, Leled. Neo, Nutdien, Sekar, Emz, Tiwi, Nesi, Lintang. Astrid, Atien, Shita, J.A, Brigit, Danis, Galuuh, Evelin, Lili, Ifah, Meme, Rifka, Anggi. Bener-bener MENAKJUBKAN hari-hari bersama kalian.
Gak sabar nunggu BUBAR GRAKS *Buka Bareng Generasi Aksel+SBI*.
Selama ini saya kangen masa-masa SMA lebih dari keluarga saya sendiri. Ama keluarga mah bisa ketemu pas liburan. Tapi masa-masa SMA gak mungkin bisa diulangi lagi. Cuma bisa nginget-nginget duluuu.
Mengenang mode ON
Paling inget tuh pas di Ruang Multimedia, ulangan pagi, smuanya di ruang itu. Yang ada di kanan-kiri-depan-belakang saya selalu minta contekan matematika. Yang paling sering minta tuh Rho, padahal dia sebenernya lebih pinter dari saya. Ckckck. Trus yang telat-telat pada duduk di belakang, dengan tekanan dari Pak Za yang ngomel-ngomel *Titis telat mulu tuh hihi*.
Ruang multimedia juga jadi tempat REMIDI DAN FISIKA. Asal tau aja, biasanya fisika tuh NGULANG semua, se-51 orang ini :)) Tapi ntar di raport, nilainya bagus-bagus kok. Maap ngerepotin mulu, Pak Koes :)
Pas 17an, pada heboh bikin-bikin hiasan. Yang biasanya maen-maen, ikutan kerja. Gak ada yang nganggur. Meski aksel 2 gak pernah menang selama 2 taun, tapi kelas kita KEREN kok, guys! :D
Pas bubar. Yang mempelopori tuh X aksel 2. Dengan Anis Winda sebagai kordiv konsumsi. Dan kita-kita sebagai konsumen. Games-games yang aneh, truth yang gak mutu *Rhido, aku masih inget dulu kamu milih aku sebagai 'cewek yang mau dijadiin pacar' lho! sayang langsung lengser begitu muncul Monmon :))*
Trus taun berikutnya, diadain lagi tapi satu angkatan 3 diundang. Ada tambahan kultum *kuliah tujuh belas menit* dari Pak Nurdin, pembukaan dari Pak Koes. Waaa, kangeeen!
Paling berkesan tuh pas ngeOSPEK aksel 4th. Sampe bikin Monika nangis. Yang cowok-cowok ngeceng Elsa. Wuaah! Acara kita KEREN BANGET!
Mengenang mode OFF
Banyak skandal seangkatan *sebagian besar berkat saya :)*, antar angkatan, bahkan antar reguler-aksel. Ada juga sedikit masalah antar reguler-aksel, tapi gak sampe jadi gedhe.
Semua itu kenangan yang paling berharga buat saya. Pengen banget bisa naek mesin waktu buat balik ke masa-masa itu. Tapi seberapa besarnya keinginan saya, sekuat apapun saya berdoa dan berharap, masa-masa itu udah lewat. Udah berakhir.
Yang tersisa cuma kenangan.
Asal tau aja, kawans, apapun yang terjadi, sampai kapanpun, 51 orang yang saya anggap sahabat paling dekat itu kalian *iya, Be, bahkan setelah apa yang kamu perbuat. see, aku pemaaf banget kan? awas aja ntar pas ketemu >:)*.
Maap, akhir-akhir ini gak ngehubungi kalian. Maap, beberapa minggu ini seolah ngelupain kalian.
Really miss you all. Can't wait for 280908.
"If you live to be 100, I hope I live to be 100 minus 1 day, so I never have to live without you."
-Winnie the Pooh

